Tag Archives: pregnancy

When is the right time?

The road to parenthood is filled with decisions, from where to give birth to what to name your precious bundle of joy. But for many expectant parents, the very first decision of all is when to spill the pregnancy beans.

announcing-pregnancy
Kapan sih waktu yang tepat buat membagi berita bahagia tentang kehamilan? Kayaknya ga ada jawaban yang pas ya. Ada dua pendapat sih, cuss kita liat pro kontra nya.

The waiting game
Alias yang nunggu sampai masa trimester pertama terlewati, sekitar 12W, cmiiw.

Kontra:
1. Secret sucks!
Repot kan kudu nyimpen rahasia? hoho

2. Ga adanya support dari orang lain when things go wrong.
Karena orang pada ga tau, jadinya bumil mungkin ngerasa sendiri ngejalanin semua ini. Hamil ga selamanya indah loh, ada tantangan sendiri seperti morning sickness ato mudah lelah.

Pro:
1. Bisa tenang tanpa terpengaruh omongan orang lain.
Biasa kan ya, buat yang udah pengalaman hamil buat ngasi tau ini itu ketika ada seorang kawan yang baru hamil. Kudu minum susu hamil lah, ga bole makan lalapan dll dll. Informasi yang kadang tanpa disertai alasan ilmiah begini kan bikin bingung orang yang baru pertama kali hamil *pengalaman diri*

2. Ngehindarin awkwardness
Amit-amit jabang bayi, but when thing goes south, explaining it to people around is the hardest part. Pastinya kikuk sekali ya, belon lagi urusan hati yang kembali terkoyak.

Early birds
Alias yang mengumumkan diawal.

Kontra:
1. Pamali
Ceuk bule mah “jinx” ceunah ya. Katanya pamali, kudu nunggu ampe masuk ke fase aman, yaitu sekitar 16W alias 4 bulanan yang saya rasa sih berkaitan dengan poin selanjutnya yaitu,

2. Repot ngurusin hati kalo the pregnancy goes wrong
Udah menyebar berita bahagia, tapi kemudian terjadi masalah dengan kehamilan tsb. Jadinya kan sedih ketika orang yang ga tau kemudian datang dan mengucap selamat. Sakitnya tuh disini ๐Ÿ˜ฆ *tunjuk hati*.
Amit-amit jabang bayi yah.

Pro:
1. Karena berita bahagia itu selayaknya dibagikan kan?
Saya sendiri ikut seneng loh kalo dapet berita kehamilan ini. Suka nebeng berdoa semoga berikutnya giliran saya ๐Ÿ˜€

2. You don’t have to fake it alias menutupi.
Misalnya ketika kondisi mengharuskan istirahat atau bed rest yang cukup lama atau ketika serangan morning sickness mendera. Kan bisa repot kalo di kantor kerjaan hoek-hoek mulu, bisa dikira hangover. ๐Ÿ˜›

3. Getting the support
Ini adalah alasan utama bagi saya.
Saya sendiri awalnya agak ragu untuk berbagi berita bahagia ini. Terbersit rasa soal pamali itu. Apalagi pengalaman sebelumnya masi berbekas di hati.
Then my husband came to the rescue by saying, ” Don’t be silly! As if telling it early will increase the risk of miscarriage!”
Kedua ortu kami pun telah berpesan untuk memberitahu mereka secepatnya. Biar kata baru telat sehari juga!
So we spilled the bean, cat’s outta bag ๐Ÿ˜€

Harapannya adalah agar kawan semua berkenan mendoakan ibu (yours truly ๐Ÿ˜€ ) dan baby-nya ini.
Saya sangat percaya akan kekuatan doa, dan saya ga pernah tau doa yang manakah yang akan diijabahNya. Semoga doa saya, keluarga dan handai taulan serta kawan-kawan semua dikabulkanNya. Aamiin.

Saya juga membagi kabar ini ke atasan dan rekan satu team. Tujuannya ya supaya tau kondisi saya. Kawan yang lain pun satu-satu mulai mengenali karena cara jalan saya yang letoy bak siput.

Jadi kesimpulannya, when is the right time to announce the news? Ga ada jawaban saklek akan ini. Semuanya berpulang pada preferensi masing-masing individu.

Sekali lagi, mohon doanya agar kami bisa menjalani kehamilan ini dengan sehat, diberi kelancaran hingga saat persalinan nanti. Mohon diaminkan ya teman temin?

Advertisements

The horror – Pool of blood

Disclaimer : ceritanya (agak) panjang yaa dan mungkin agak horor ๐Ÿ˜›

Lanjutan dari siniย , saya akhirnya bisa tidur sekitar jam 6 sore.

Pukul 7 saya terbangun dengan rasa mulas di perut. Masih bearable dan saya juga bingung apa ini mulas karena pengen BAB. Karena saya ga pernah ngalamin mulas atau nyeri haid, walhasil saya bingung sendiri dan merasa asing dengan rasa mulas yang dirasakan.Teman-teman kostan juga datang nengok ke kamar buat ngecek dan nyemangatin. Jam setengah 8 malam saya bangun dan ke toilet. Niatnya mau ย bersih-bersih dan sholat magrib.

Subhanallah, toilet berwarna merah karena darah dan pembalut saya penuh dengan darah. Saya mencoba (maaf!) ngeden untuk memastikan apakah saya emang pengen BAB. Ternyata ga tuh.

Saat itu saya tahu kalau rasa mulasnya adalah pertanda tak baik.

Keluar dari toilet saya bilang ama teman kostan kalo saya mau ke ER lagi. Mulas dan bleeding yang makin banyak bukanlah pertanda yang baik. Teman saya tersebut pun akhirnya menemani saya selama di ER.

Di kamar saya berusaha membawa beberapa ganti pakaian dalam dan pembalut. Saya pakai jilbab bergo. Saya panggil taksi dan saya masi bisa turun ke bawah blok sambil berjalan perlahan.

Beberapa saat di taksi, rasa mulas makin menjadi. Sampai di pintu ER, saya sudah tak sanggup jalan dan minta tolong ama supir taksi untuk mengambilkan kursi roda. Yap, dalam 30 menit, rasa sakit dan mulas meningkat drastis. ๐Ÿ˜ฆ

Untungnya (masi ada untung yee) saya sempat ke ER siang tadi sehingga saya mampu membimbing teman kost untuk melalui semua proses di ER mulai dari proses registrasi hingga menunggu panggilan. Dan dia bengong karena ternyata di ER kudu nunggu dan ngantri hehe. Karena masih within 24 hours setelah last visit ke ER, kali ini saya ga harus bayar SGD 108. Alhamdulillah.

Mulai lagi prosedur seperti yang sudah tadi siang saya lakukan, cek suhu badan, detak jantung dan urin.
Haduhh peer bener deh disaat badan udah ga bisa bangun gitu. temen kost saya aja kaget ngeliat tampungan urin saya yang warnanya merah semua. Ehhh,,,ternyata ga perlu tes urin karena tadi siang udah. Hih!! pengen ngejitak deh, apa daya sini lemes mambo.

Suami yang udah saya kabarin pun kalang kabut cari tiket tapi apa hendak dikata, udah ga ada penerbangan lagi malam itu. Karena saya udah makin ga keruan bentukannya (dah bungkuk2 hampir ndlosor di kursi roda), saya kasi nomer suami ke temen kost dan juga sebaliknya supaya mereka bisa berkomunikasi.

Sampai di depan ruang konsul nomer 9, kami kudu nunggu lagi. Ada sekitar 40 menitan mungkin, tapi rasanya seabad (ga lebay!!). Rasa sakit yang terusย  menerus datang membuat wajah saya pucat dan tangan dingin sampai dipijitin ama kawan supaya agak hangat. Doa dan dzikir yang udah ga bisa terucap, saking sakitnya! Kawan saya sampai nanya ke staf registrasi karena dokter ga kunjung datang. On the way, katanya.

Akhirnya saya masuk juga. Dokternya cowo. Jujur udah ga kepikiran malu dan lain sebagainya karena saya cuma pengen tau kalo kakak baik-baik saja. Sambil gemetar saya naik ke kasur. Dan dimulailah lagi proses obok-obok. Entah karena emang saya lagi kesakitan ato emang teknik sang dokter yang “kasar”, rasanya sakit dan pedih sekali ketika jarinya masuk untuk ngecek kondisi rahim. Rahim masi tertutup katanya. USG vaginal pun cuma dilakukan sekilas aja, dan dia bilang kalo the baby is gone.

DEG!!!

Padahal saya melihat kantung janin masih ada. Saya keukeuh bilang kalo 4 jam lalu, janinnya ada dan minta supaya dia membaca history saya. Dia cuma bilang, saya udah baca tapi keukeuh bilang kalo the baby is gone meski mulut rahim tertutup. Bingung kan ya? tapi lagi-lagi semua dikalahkan oleh sakit yang semakin menjadi sehingga saya tidak mendebatnya.

Dia bilang saya bole pulang atau dirawat. Dokter cowo itu bilang kalo dirawatpun saya hanya akan menerima duphaston dan pain killer saja. Tidak akan ada tindakan lain. Saya minta dirawat saja, daripada repot balik lagi seandainya kondisi saya memburuk.

It was a good thing that i trusted my guts. Why? Sing sabar ya ngikutin ceritanya.

Di ruang ER (semacam transit area sebelum pasien masuk ruang perawatan), saya disuntik duphaston dan diberi tablet pain killer. Dan tidak dipasangi infus, horeee!!! Tapi suntikan duphaston-nya bikin ngilu berhari-hari cynn!! ๐Ÿ˜ฆ

Setelah urusan administrasi ina inu selesai, pukul 10 malam saya masuk kamar perawatan di ward 48 bed no 1.

Rasa mules dan sakit masih mendera, meski akhirnya sakitnya datang dan pergi.

Di ruang perawatan saya diberi baju ganti, diberi celana disposable dan pembalut. Pengecekan suhu dan tekanan darah dilakukan per 30 menit. Alhamdulillah semuanya normal. Saya tidak pusing dan demam. Sekali lagi saya diminta untuk tes urin.

Hampir lupa, mbak susternya juga selalu mengecek kondisi pembalut saya. Ga tau kudu gimana ini sih, tapi saya jadi bersimpati ama pekerjaan suster karena ini.

Jam 10.30 malam saya minta teman saya pulang. Udah larut malam dan saya juga udah di ruang perawatan. Suami mengabari kalo dia akan terbang jam 8.20 esok pagi.

Trus, apa saya langsung tidur abis itu?

Ya ga lahh!! (santai napa neng??? ๐Ÿ˜› )

Jam 11 malam masi telponan ama orang kantor dan agen asuransi yang akan ngasi letter of guarantee besok, meski kehamilan dan apapun yang berkaitan dengannya ga bakal dicover. Dia lakukan ini supaya saya ga repot ini itu karena saya sendirian ngurus ini itu.

Saya juga mengirim pesan ke beberapa sahabat dan teman pengajian, meminta doa karena saya percaya akan kekuatan doa.

Sekitar jam 11.30-an, dokter jaga datang mengecek dan mengambil darah buat tes darah.

Dia kaget karena darah saya mengental. Saya yang masih terus mengalami pendarahan sama sekali ga bisa mencerna itu, lha wong darah keluar terus kok dbilang darah saya kental. Akhirnya sang dokter mencoba sekali lagi. Wess pasrah deh, ditusuk sana sini.

Jam 12-an,ย  saya udah bersih-bersih dan berbaring di tempat tidur.

Mencoba berkontemplasi atas kejadian hari ini. Berusaha menguatkan diri bahwa saya pasti kuat menghadapi ini.

God is good, always!!!

Saya juga akhirnya menangis mengingat sakit dan mulas yang saya rasakan. Hari ini saya baru tahu dari seorang kawan, kalau itu adalah kontraksi level pembukaan 5. Saya ga kebayang gimana rasanya para wanita yang masih harus merasakan pembukaan komplit untuk melahirkan. Sebenernya ditengah rasa sakit yang mendera, saya sempat minta ampun ke ibu saya. Sungguh baru terasa dan teresapi mengapa Rasulullah SAW menyebut nama ibu hingga 3 kali.

Saya usap perut saya dan berkata kalo kakak anak ibun yang pinter dan solih, ibun cuma mau yang terbaik buat kakak. Saya meyakinkan diri bahwa apapun yang terjadi, Inshaa Allah adalah yang terbaik menurut Sang Maha Pembuat Rencana. Berusaha ikhlas agar bisa senantiasa bersabar dan bersyukur.

Ward 48

Ward 48

 

The horror
Tanggal 5 Juli 2014 – Jam 5.30 pagi
Saya terbangun karena nampaknya ada pasien baru yang masuk ruang perawatan di bed sebelah kanan saya. Saya juga bersiap untuk sholat subuh. Hingga kemudian …

BYURR!!!

Semuanya serba cepat dan saya hanya merasa ada semburan hangat. Waduhh, mosok iya saya ngompol sih?

Ketika saya buka selimut, saya melihat darah membasahi kasur dan merambat dengan cepat membasahi pakaian yang saya kenakan.

Dengan panik saya tekan tombol panggilan dan seorang suster datang tak lama kemudian. Saya jelaskan kondisi saya dan dia pun pergi untuk mengambil peralatan.

Selama menunggu, saya ga berani melihat kebawah. Takut dan ngeri rasanya!

Rasanya udah ga karuan karena saya sama sekali tidak bisa mengontrol aliran darah yang keluar.

Jadi betul-betul seperti banjir darah yang sama sekali tak terbendung.

Tak lama si suster datang bersama rekannya yang lain. dengan cepat mereka membersihkan darah yang membasahi kedua paha saya, melepas pakaian dan pakaian dalam serta menggantinya dengan yang baru. Bahkan kasur saya pun akhirnya diberi alas ompol. ๐Ÿ˜ฆ

The nurses didn’t say a word but I could see clearly the horror in their faces.

Semenjak detik itu, status saya jadi “nothing by mouth” alias puasa makan minum termasuk air putih.

Haduhhh, saya udah takut aja kalo nanti akan ada tindakan karena sepengetahuan saya yang cetek ini, biasanya puasa itu dilakukan sebelum tindakan bedah. Selain itu, saya yang sebelumnya masih diperbolehkan jalan ke toilet, akhirnya dilarang bangkit dari kamar tidur. Keperluan ke belakang harus dilakukan di tempat tidur pake pispot.

Sejam kemudian, karena ga tahan, saya minta tolong dibantu pipis. Karena pake pispot, saya ga tau kondisi (maaf yah) pipis saya. Tapi rasanya berbeda karena alirannya terasa agak “kental” dan lambat keluarnya.

Saya tanya apakah itu darah, tapi dia cuma menjawab, don’t worry. Lhaa..jaka sembung!

Dokter jaga yang semalam pun datang mengecek dan bilang kalo seniornya akan datang mengecek.

Dan siapakah sang senior itu?

Ternyata dokter cowo yang semalam menangani saya di ER. Jreng!!!

I told you right? The baby is gone and now the thing is out.

Saya udah ga bisa ngomong apa-apa ketika akhirnya dia ngobok-obok pake jarinya buat ngecek rahim.

Dia ngecek dengan disaksikan oleh dokter jaga (cewe) dan dua suster.

Pedihhh sekali rasanya!!

Dia juga bilang kalo mereka akan mengecek jaringan yang sudah keluar. Obgin saya nanti yang akan menjelaskan lebih lanjut.

Sampai disini sih kudunya saya udah bisa nerima kenyataan yah? Ibarat sinetron mah, kudunya uda tamat dong yah?

Ehh..ibarat sinetron cinta fitri, masi ada season- season berikutnya karena drama ternyata masi berlanjut karena pergantian dokter jaga dan perawat.

Dokter jaga yang baru (cewe juga) mengatakan bahwa obgin saya berpesan supaya saya tetap datang mengikuti jadwal scan di Fetal Care Centre dan melanjutkan obat duphaston. Lhaa,,,kalo udah keguguran seperti yang disampaikan oleh dokter cowo itu, kenapa saya musti terus minum obat ya? Secara duphaston juga berfungsi sebagai penguat kandungan. Menurut si dokter, saya masi kudu terus minum itu karena saat ini belom bisa dipastikan apakah saya keguguran atau tidak.

Bingung kan lo?? Apalagi saya yang udah mah kurang tidur, cape dan stress. Saya keukeuh minta supaya obgin saya visit.

Suami datang sekitar jam 12-an, pas saya mau makan. Oh iya, sekitar jam 11 saya sudah dibolehkan makan minum dan jalan ke toilet.

The food

The food

 

Sekitar jam 2 siang, obgin saya datang, dan menyatakan bahwa saat ini dia tidak bisa menyatakan apakah saya keguguran. Dia tidak mau terburu-buru menyimpulkan dan mau memastikan dari hasil scan di Fetal care centre rabu tanggal 9 nanti. ketika ditanya apakah saya mengeluarkan gumpalan darah, saya cuma bisa jawab tidak tahu. Ketika banjir darah melanda, saya ga berani ngecek dan susterlah yang membersihkan semuanya. Obgin menenangkan by saying all is ok. Don’t worry!

Status saya, pregnant unless proven otherwise. Saya masih kudu melanjutkan obat duphaston dan asam folat seperti biasanya. Ketika saya sampaikan bahwa dokter ER cowok menyatakan kalo saya keguguran, dia sempat kaget. Tapi kemudian ngomong kalo itu kesimpulan yang terlalu dini.

Jam 3 sore, saya dan suami meninggalkan rumah sakit dengan tagihan sebesar SGD 800 buat perawatan dan pengobatan selama semalam. Diagnosanya sendiri adalah threatened miscariage.

 

First check-up – 27 Juni 2014

Setelah tespek yang kedua (tanggal 21 Juni 2014), saya akhirnya menghubungi NUH (National University Hospital) untuk bikin janji.Ga seperti di Indo, disini kita harus bikin janji dulu buat ketemu obgin. Itupun ga langsung ketemu karena katanya sih mereka baru mau nerima kalo usia kehamilan minimal udah 6ย  minggu.Biar ga bolak balik kali ya? Kan kalo masi muda, mungkin janin pun belum nampak.

Saya dapat jatah tanggal 27 Juni dengan Dr. Vanaja. Obgin ini direkomendasikan oleh 2 rekan kerja di kantor.
Kebetulan juga jadwal prakteknya pas dengan suami yang maunya selalu mendampingi di setiap sesi konsultasi.
Suami maunya jumat atau senin konsulnya, biar rada lamaan dikit nemenin istri. sayangnya obgin muslimah yang kami mau hanya praktek di hari Selasa dan Kamis.
Dr. Vanaja sendiri merupakan senior consultant dengan beragam pengalaman yang saya yakin akan mampu membantu saya yang termasuk dalam golongan high-risk pregnancy mengingat usia saya yang tidak muda lagi. aheemmm.

Ganti-ganti obgin tentu saja bisa dilakukan. Palingan cuma kudu bayar “agak lebih” di sesi konsultasi pertama. Jadi, konsul pertama memang fee-nya agak lebih mahal dibanding sesi berikutnya. So, kalo ganti obgin, berarti kita harus bayar fee konsul pertama lagi.
Saya dan suami bersepakat untuk nyoba dulu aja, kalo dirasa kurang cocok ya ganti ke dokter muslimah yang kami ย mau.

Appoinment kami dengan obgin di jam 15.30. Alhamdulillah pas sampe meja registrasi ya jam segitu. Kebetulan dokternya sedang menangani lahiran jadi bakal telat sekitar 1 jam kata stafnya.
Karena ini kedatangan perdana, staf di meja registrasi meminta sayaย  mengisi beberapa data, baik data diriย  maupun kuesioner untuk mengetahui tingkat psikologis saya, alias bumil ini stres atau tidak hihi.
Selain itu, sang staf juga menjelaskan mengenai paket pemeriksaan di usia kehamilan 22 minggu hingga post partum dan ante natal course.
Saya juga dikasi buku mengenai serba serbi kehamilan, yang diterima dengan senyum kecut suami biar dia baca sebagai rujukan. Ishh!! Setiap kedatangan, saya juga akan disuruh melakukan tes urin sederhana.

NUH Women's Clinic- Emerald/Ruby

NUH Women’s Clinic- Emerald/Ruby

Pregnancy related brochure

Pregnancy related brochure

Setelah semua proses registrasi selesai, kami diminta menunggu di depan ruang konsultasi nomer 7. udah banyak ibu-ibu hamil yang juga nunggu disitu.
Hihi..rasanya excited, juga deg-degan…maklum baru pertama kali.

Excited Ayah & Ibun

Excited Ayah & Ibun ๐Ÿ™‚

40 Menit kemudian, nama saya dipanggil. Sambil deg-degan kami berdua masuk ke ruangan.
Suster kemudian menyuruh suami untuk menunggu di balik kelambu (kek judul pelem jadul ye?) sementara saya disuruh melepas pakaian dalam dan angkat rok untuk kemudian ditutupi kain.
Sempet ngarep bakal di USG perutnya tapi ternyata harus USG vaginal. Glek!!!
Sambil nunggu dokternya datang, suster nanya-nanya data pribadi semacam tanggal lahir, berapa lama menikah, riwayat kesehatan pribadi dan keluarga serta HPHT.
Susternya juga ngajarin supaya narik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan lewat mulut ketika stick USG dimasukkan. Biar ga sakit katanya. Tentunya sambil terus ngewanti-wanti supaya relax.

Pemandangan selama menanti eksekusi bisa dilihat dibawah ini.
Masi haha-hihi. Stick yang disebelah kanan itu yang nantinya masuk ke vajaijay.
Ketika saya kirim ke sepupu yang di Indo, komennya “gede banget ituuu”

Ngilu yee? ๐Ÿ˜›
20120106_145847

Kemudian dokternya datang dan mulai memasukkan stick itu. Sempet kaget dan sontak vajaijay jadi kaku sampe stick-nya ga bisa masuk hihi. Dokter bilang relax, dan suster ngingetin buat bernafas seperti anjurannya. Alhamdulillah, karena niat pengen ketemu anak dan mata fokus ke layar monitor, akhirnya si stick pun masupp.

Suami kemudian dipanggil untuk turut melihat proses USG.

Sadly, mata dokter malah terpaku menemukan tumor jinak di area rahim sebesar 6 cm. Kaget juga dia waktu tahu kalau ini adalah pengalaman USG vaginal pertama bagi saya.
Lha wong sini baru kawin kok, so wajar toh kalo daleman belon pernah diobok-obok *nada sewot karena si dokter ga liat riwayat pernikahan saya..huh*

Saya sendiri tidak memiliki keluhan nyeri saat haid atau bahkan kram, siklus haid berjalan dengan regular. Tumor ini sendiri memang bisa dikatakan silent disease karena emang kadang tidak ada gejala yang menyertainya.

Tak lama kemudian dia menunjukkan kantung janin berwarna hitam.
Berdasarkan HPHT, kandungan saya ย berusia 7 minggu saat itu. Dokter berharap setidaknya bisa melihat yolk sac tapi yang ada hanya kantung janin yang hitam.

Di gambar yang dibuat oleh dokter itu bisa dilihat perbandingan besarnya tumor dan kantung janin.

USG 27 Juni 2014

USG 27 Juni 2014

Saya yang udah baca beragam blog dan forum kehamilan (baik di Indonesia maupun Singapura) juga ngarep udah bisa melihat detak jantung janin.
Jujur perasaan udah ga enak aja. Udah mah kaget karena ada tumor, juga ga nyangka kalo kantung-nya kosong. Ingatan saya menerawang ke cerita mengenai BO (blighted Ovum= janin tak berkembang) yang sempat saya baca.

Dokter sendiri tidak banyak bicara, cuma berkata bahwa mungkin ovulasinya aja yang lambat. Saya diresepkan Duphaston dan Asam folat.
Saya juga dijadwalkan untuk melakukan scan di Fetal Care Centre 10 hari kemudian. Diharapkan dalam waktu 10 hari, akan ada progress pada janin.

Tumornya sendiri ga bisa diapa-apain selama kehamilan dan saat ini masih terlalu dini untuk menyatakan apakah mengganggu kehamilan atau tidak.

We’re in waiting game. Cuma bisa wait and see aja. ๐Ÿ˜ฆ

Keluar dari kamar konsultasi, saya ga bisa nahan nangis sementara suami cuma bisa ngomong, ” udah jangan nangis yah”. Dia sendiri ngerasa kalo usia kandungan semestinya tidak 7 minggu dan baru 5 minggu. So there’s still hope.

Meski tidak bisa dengan pasti menyatakan kapan terjadinya konsepsi, tapi kami yang LDR ini bisa memastikan kapan tanggal berhubungan. Ada jeda 2 minggu yang mungkin menyebabkan “ketidakcocokan” usia kehamilan dengan aktualnya.Wallohua’lam.

Sambil menunggu resep, kami berdua mencoba browsing mengenai tumor dan cara pengobatannya. Saya sambil mewek tentunya. Udah ga peduli deh diliatin ama ibu-ibu yang laen. ๐Ÿ˜ฆ

Total kerusakan pada dompet ๐Ÿ˜› adalah SGD 305.55
Dengan rincian sbb:
Biaya konsultasi : SGD 130.54
Biaya scan : SGD 123.05
Obat : SGD51.96

Baru kerasa betapa mahalnya biaya kesehatan disini. Boo..dulu kemana aja yak??

Pulang kerumah, kami langsung telpon orangtua kami. Sambil mewek tentunya (si saya, suami mah nggak). Saya juga berusaha browsing dan membandingkan hasil USG saya dengan yang ada di internet. Memang terlihat beda yang signifikan. ๐Ÿ˜ฆ

Saya juga bertanya ke sepupu yang sedang hamil. Dia membesarkan hati kalau dia pun saat pertama USG di kehamilan 8minggu, cuma kantung janin saja yang nampak. Saya juga menemukan sebuah website yang menyatakan bahwa vonis BO sebaiknya tidak dijatuhkan dengan cepat dan harusnya menunggu hingga usia 12 minggu.

Yosh!! Ibun juga bersemangat jadinya, Fight demi kakak!! *tangan dikepal*

Oh iya, kami memanggil anak kami ini dengan sebutan kakak. Simply, karena ia akan menjadi anak pertama dan kakak bagi adik-adiknya.
Btw, suami maunya punya anak 4 loh! *estri pengsan* ๐Ÿ˜›

NUH Women’s Clinic โ€“ Emerald/Ruby
Kent Ridge Wing, Level 3
Tel: (65) 6772 2255 / 2277
http://www.nuhgynae.com.sg/

Hadiah itu…

Kami terima 10 hari kemudian.
Masih inget postingan saya yang ini?
Tampaknya doa saya yang diamini oleh para pembaca blog (duilee..pembaca yang manee?), dikabulkan olehNya.

Hari pertama haid terakhir (HPHT) saya adalah 8 Mei, dan jadwal berikutnya adalah tanggal 6 Juni.
Fyi, semenjak menikah (bahkan setelah lamaran ding), saya menggunakan aplikasi di henpon untuk mencatat tanggal-tanggal keramat alias masa subur. Maklum, kan jauhan ya, jadi sini ogah rugi kalo ditoel diluar jadwalnya hihi.
Ngebet seus?? ๐Ÿ˜›
Makanya harap-harap cemas ketika sang bulan tak kunjung datang.
Karena pas bulan Maret sebenernya saya udah pernah telat juga, selama 6 hari sampai kemudian kedatangan tamu pas di hari ketujuh. Sayangnya saat itu ga nyetok test pack sehingga saya dan suami ga tahu apakah itu sekedar telat atau sebenernya emang sudah terjadi kehamilan. Wallohu’alam.
Belajar dari pengalaman tsb, kali ini saya sudah siap dengan 2 tespek beda merk.
Udah gatelll pengen nyoba ngetes tapi saya tahan-tahan, ga mau geer.

 

14 Juni 2014
Akhirnya setelah 8 hari menunggu, saya beranikan diri buat ngetes.
Subuh-subuh saya bangun dan coba nampung urin.
Hasilnya, dua garis tapi garis yang kedua masih tipis.

TP14062014

Saya sendiri merasa yakin kalau ini artinya positif.
Sambil gemeteran dan sedikit bengong, saya balik ke kamar buat moto.
Terus nangis. hihi.
Lhaa..kok mewek?
Yaa karena seneng, hepi dan juga deg-degan, rada ga yakin ama kemampuan diri untuk menjadi ibu.
Saya sendiri berniat untuk tidak memberitahu suami dulu. Tar aja nunggu kalo udah telat 2 minggu.
Masi trauma marisa ya ceuuu ๐Ÿ™‚

Tapi siangnya akhirnya ngimel foto tespek ke suami. haha..mureee emang!
Saya lupa penyebabnya apa tapi waktu itu suami merepet di WA.
Buat nyumpel kemarahannya saya kirim foto itu. Hehe.
Reaksinya? Suuuperrrr seneng..berhasil juga ngehamilin anak gadis orang haha. Sungguh berkualitas sekali!
Dia sih udah yakin banget kalo ini positif hamil.

Meski malemnya sempet merepet lagi dan memastikan kalo saya ngikutin petunjuk pemakaian tespek tsb.
Dia tau pasti istrinya odong-odong.
Dan emang saya aslinya ga baca petunjuknya sih hihih.

21 Juni 2014
Seminggu kemudian saya mencoba untuk tespek lagi. Cuma memuaskan rasa penasaran aja sih hihi.
Ngarepnya sih garisnya bakal lebih jelas.
Ternyata, parameter-nya sendiri adalah 2 garis pink.
Dan Alhamdulillah, sampai hari ini udah telat 15 hari.

TP21062014

27 Juni 2014
Karena 2 kali tespek pake yang buatan Indonesia, saya mah jaga-jaga aja sapa tau pas check up disini dokternya mempertanyakan validitasnya.
Parno ama odong-odong emang beda tipis yee.

TP27062014

Hamdallah, hasilnya tetep sama 2 garis.

So far tidak ada keluhan soal kehamilan ini. Meski mual seringkali dialami, tapi saya berusaha untuk tidak muntah. sakit jiwa raga kalau muntah soalnya.

Gimana dengan ngidam? Alhamdulillah, ga pengen yang aneh-aneh tuh, secara suami juga jauh dan ga mungkin disuruh-suruh buat beli. Cuma diawal-awal sebelum akhirnya tespek, saya sempet doyan banget makan sambel, sampe sempet nitip ke teman buat bawain sambal bu rudi yang konon amatlah sangat terkenal. Sementara temen-temen di kostan pada mandi keringet karena kepedesan, si saya asik aja tuh ngegadoin sambelnya ama kerupuk.

Setelah tespek dan tau kalo diri ini positif hamil, tumisan sayur pake cabe sebiji aja udah bikin megap-megap kepedesan.dan saya resmi ga bisa makan pedes setelah itu.Aneh ya?