First check-up – 27 Juni 2014

Setelah tespek yang kedua (tanggal 21 Juni 2014), saya akhirnya menghubungi NUH (National University Hospital) untuk bikin janji.Ga seperti di Indo, disini kita harus bikin janji dulu buat ketemu obgin. Itupun ga langsung ketemu karena katanya sih mereka baru mau nerima kalo usia kehamilan minimal udah 6  minggu.Biar ga bolak balik kali ya? Kan kalo masi muda, mungkin janin pun belum nampak.

Saya dapat jatah tanggal 27 Juni dengan Dr. Vanaja. Obgin ini direkomendasikan oleh 2 rekan kerja di kantor.
Kebetulan juga jadwal prakteknya pas dengan suami yang maunya selalu mendampingi di setiap sesi konsultasi.
Suami maunya jumat atau senin konsulnya, biar rada lamaan dikit nemenin istri. sayangnya obgin muslimah yang kami mau hanya praktek di hari Selasa dan Kamis.
Dr. Vanaja sendiri merupakan senior consultant dengan beragam pengalaman yang saya yakin akan mampu membantu saya yang termasuk dalam golongan high-risk pregnancy mengingat usia saya yang tidak muda lagi. aheemmm.

Ganti-ganti obgin tentu saja bisa dilakukan. Palingan cuma kudu bayar “agak lebih” di sesi konsultasi pertama. Jadi, konsul pertama memang fee-nya agak lebih mahal dibanding sesi berikutnya. So, kalo ganti obgin, berarti kita harus bayar fee konsul pertama lagi.
Saya dan suami bersepakat untuk nyoba dulu aja, kalo dirasa kurang cocok ya ganti ke dokter muslimah yang kami  mau.

Appoinment kami dengan obgin di jam 15.30. Alhamdulillah pas sampe meja registrasi ya jam segitu. Kebetulan dokternya sedang menangani lahiran jadi bakal telat sekitar 1 jam kata stafnya.
Karena ini kedatangan perdana, staf di meja registrasi meminta saya  mengisi beberapa data, baik data diri  maupun kuesioner untuk mengetahui tingkat psikologis saya, alias bumil ini stres atau tidak hihi.
Selain itu, sang staf juga menjelaskan mengenai paket pemeriksaan di usia kehamilan 22 minggu hingga post partum dan ante natal course.
Saya juga dikasi buku mengenai serba serbi kehamilan, yang diterima dengan senyum kecut suami biar dia baca sebagai rujukan. Ishh!! Setiap kedatangan, saya juga akan disuruh melakukan tes urin sederhana.

NUH Women's Clinic- Emerald/Ruby

NUH Women’s Clinic- Emerald/Ruby

Pregnancy related brochure

Pregnancy related brochure

Setelah semua proses registrasi selesai, kami diminta menunggu di depan ruang konsultasi nomer 7. udah banyak ibu-ibu hamil yang juga nunggu disitu.
Hihi..rasanya excited, juga deg-degan…maklum baru pertama kali.

Excited Ayah & Ibun

Excited Ayah & Ibun 🙂

40 Menit kemudian, nama saya dipanggil. Sambil deg-degan kami berdua masuk ke ruangan.
Suster kemudian menyuruh suami untuk menunggu di balik kelambu (kek judul pelem jadul ye?) sementara saya disuruh melepas pakaian dalam dan angkat rok untuk kemudian ditutupi kain.
Sempet ngarep bakal di USG perutnya tapi ternyata harus USG vaginal. Glek!!!
Sambil nunggu dokternya datang, suster nanya-nanya data pribadi semacam tanggal lahir, berapa lama menikah, riwayat kesehatan pribadi dan keluarga serta HPHT.
Susternya juga ngajarin supaya narik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan lewat mulut ketika stick USG dimasukkan. Biar ga sakit katanya. Tentunya sambil terus ngewanti-wanti supaya relax.

Pemandangan selama menanti eksekusi bisa dilihat dibawah ini.
Masi haha-hihi. Stick yang disebelah kanan itu yang nantinya masuk ke vajaijay.
Ketika saya kirim ke sepupu yang di Indo, komennya “gede banget ituuu”

Ngilu yee? 😛
20120106_145847

Kemudian dokternya datang dan mulai memasukkan stick itu. Sempet kaget dan sontak vajaijay jadi kaku sampe stick-nya ga bisa masuk hihi. Dokter bilang relax, dan suster ngingetin buat bernafas seperti anjurannya. Alhamdulillah, karena niat pengen ketemu anak dan mata fokus ke layar monitor, akhirnya si stick pun masupp.

Suami kemudian dipanggil untuk turut melihat proses USG.

Sadly, mata dokter malah terpaku menemukan tumor jinak di area rahim sebesar 6 cm. Kaget juga dia waktu tahu kalau ini adalah pengalaman USG vaginal pertama bagi saya.
Lha wong sini baru kawin kok, so wajar toh kalo daleman belon pernah diobok-obok *nada sewot karena si dokter ga liat riwayat pernikahan saya..huh*

Saya sendiri tidak memiliki keluhan nyeri saat haid atau bahkan kram, siklus haid berjalan dengan regular. Tumor ini sendiri memang bisa dikatakan silent disease karena emang kadang tidak ada gejala yang menyertainya.

Tak lama kemudian dia menunjukkan kantung janin berwarna hitam.
Berdasarkan HPHT, kandungan saya  berusia 7 minggu saat itu. Dokter berharap setidaknya bisa melihat yolk sac tapi yang ada hanya kantung janin yang hitam.

Di gambar yang dibuat oleh dokter itu bisa dilihat perbandingan besarnya tumor dan kantung janin.

USG 27 Juni 2014

USG 27 Juni 2014

Saya yang udah baca beragam blog dan forum kehamilan (baik di Indonesia maupun Singapura) juga ngarep udah bisa melihat detak jantung janin.
Jujur perasaan udah ga enak aja. Udah mah kaget karena ada tumor, juga ga nyangka kalo kantung-nya kosong. Ingatan saya menerawang ke cerita mengenai BO (blighted Ovum= janin tak berkembang) yang sempat saya baca.

Dokter sendiri tidak banyak bicara, cuma berkata bahwa mungkin ovulasinya aja yang lambat. Saya diresepkan Duphaston dan Asam folat.
Saya juga dijadwalkan untuk melakukan scan di Fetal Care Centre 10 hari kemudian. Diharapkan dalam waktu 10 hari, akan ada progress pada janin.

Tumornya sendiri ga bisa diapa-apain selama kehamilan dan saat ini masih terlalu dini untuk menyatakan apakah mengganggu kehamilan atau tidak.

We’re in waiting game. Cuma bisa wait and see aja. 😦

Keluar dari kamar konsultasi, saya ga bisa nahan nangis sementara suami cuma bisa ngomong, ” udah jangan nangis yah”. Dia sendiri ngerasa kalo usia kandungan semestinya tidak 7 minggu dan baru 5 minggu. So there’s still hope.

Meski tidak bisa dengan pasti menyatakan kapan terjadinya konsepsi, tapi kami yang LDR ini bisa memastikan kapan tanggal berhubungan. Ada jeda 2 minggu yang mungkin menyebabkan “ketidakcocokan” usia kehamilan dengan aktualnya.Wallohua’lam.

Sambil menunggu resep, kami berdua mencoba browsing mengenai tumor dan cara pengobatannya. Saya sambil mewek tentunya. Udah ga peduli deh diliatin ama ibu-ibu yang laen. 😦

Total kerusakan pada dompet 😛 adalah SGD 305.55
Dengan rincian sbb:
Biaya konsultasi : SGD 130.54
Biaya scan : SGD 123.05
Obat : SGD51.96

Baru kerasa betapa mahalnya biaya kesehatan disini. Boo..dulu kemana aja yak??

Pulang kerumah, kami langsung telpon orangtua kami. Sambil mewek tentunya (si saya, suami mah nggak). Saya juga berusaha browsing dan membandingkan hasil USG saya dengan yang ada di internet. Memang terlihat beda yang signifikan. 😦

Saya juga bertanya ke sepupu yang sedang hamil. Dia membesarkan hati kalau dia pun saat pertama USG di kehamilan 8minggu, cuma kantung janin saja yang nampak. Saya juga menemukan sebuah website yang menyatakan bahwa vonis BO sebaiknya tidak dijatuhkan dengan cepat dan harusnya menunggu hingga usia 12 minggu.

Yosh!! Ibun juga bersemangat jadinya, Fight demi kakak!! *tangan dikepal*

Oh iya, kami memanggil anak kami ini dengan sebutan kakak. Simply, karena ia akan menjadi anak pertama dan kakak bagi adik-adiknya.
Btw, suami maunya punya anak 4 loh! *estri pengsan* 😛

NUH Women’s Clinic – Emerald/Ruby
Kent Ridge Wing, Level 3
Tel: (65) 6772 2255 / 2277
http://www.nuhgynae.com.sg/

Advertisements

One thought on “First check-up – 27 Juni 2014

  1. Pingback: Meet the gynae ~ my closure | ourlivetogether

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s