Melihat ke dalam

Pasangan A

Pasangan yang bisa dianggap ideal, fisik tinggi dan ganteng-cantik. Suami berprofesi di bidang penjualan dan istri berusaha di bidang tailor alias adi busana. Sudah dikaruniai 2 jagoan yang lucu.Suami  memiliki karir yang bagus, dan mereka sudah memiliki rumah dan mobil milik sendiri.

Ladang amal: suami agak nakal dan beberapa kali kepergok selingkuh.

Pasangan B

Pasangan yang berada di zona fetty fera alias sedang-sedang aja. Ga ada gejolak berarti.

Ladang amal: suami kehilangan pekerjaan, namun berdua bahu-membahu menjalankan toko kelontong yang selama ini dikelola istri.

Pasangan C

Pasangan ini juga bisa dianggap ideal. Suami berasal dari keluarga sukses dan bekerja di bidang oil and gas. Istri pun bekerja di bidang yang sama di Singapura. Semuanya nampak indah dan sempurna.

Ladang amal: keluarga sang istri kurang pandai mengelola keuangan dan terjerat dalam piutang, yang lumayan bikin puyeng si istri.

Saya tidak merujuk ke si anu ato si itu. Cerita diatas saya dapat dari tokohnya secara langsung, sebagian dari cerita orang terdekat sang tokoh. Mohon dipahami, tujuan menulis ini adalah sebagai pengingat, terutama bagi saya pribadi yang seringkali “lupa” dan suka siwer ngeliat orang lain.

Karena melihat ke atas, acap  membuat lupa menjejak bumi dan kerap berakhir dengan iri yang membakar hati. Cape juga kalo ngedongak terus kan?

Sementara melihat kebawah, terkadang membuat lupa daratan dan mudah tergelincir dalam lembah kesombongan.

Mungkin ada baiknya jika kita sesekali melihat sedikit ke dalam.

Karena ada cerita dibaliknya. Yang acapkali tak kasatmata.

Bersyukurlah atas  apapun yang dipunyai sekarang. Bukankah nikmatNya akan ditambahkan jika kita mensyukuri karuniaNya?

Bersyukur pula yang saya yakini menjadi kunci penyeimbang, agar tak gelap mata memandang ke atas dan melatih kelembutan hati ketika memandang ke bawah.

Sekedar sharing dari saya yang masih kurang pandai bersyukur. 🙂

PS: Mungkin lebih baik kalo kita fokus dan menyibukkan diri dengan ladang amalan diri. Setiap diri pasti udah ada bagian ladangnya masing-masing. Biar ga silau ama rumput tetangga yang (nampak) lebih hijau. *brb macul ladang sendiri* 😛

31c2d745ea0fd724099bab9abb85cbe4

Advertisements

6 thoughts on “Melihat ke dalam

    1. NanaBanana Post author

      Itu dia pit,,,kadang luput dr perhatian tuh,,,padahal ga ada yg namanya kecil tuh,,semua yg dtrima tuh sebenernya besar, saking aja ga nyampe ilmunya buat memahaminya,,,hayahhh ngomong opo toh si banana inih

      Reply
  1. Lisnandia Wulandari

    Bananaaaaa… Long time tidak menodai blog-mu. Hihihi..
    Ah, kalo soal ini sih setuja sekali lah. Syukuri & hadapi aja yang kita punya. Kalo misalnya ada orang lain yang menurut kita lebih baik, ya jadiin aja motivasi biar kita juga bisa ikut lebih baik. 🙂

    Reply
  2. emaknyashira

    Benuuul sekali Banana, emang kita harus pandai bersyukur sambil terus berusaha jadi lebih baik. Gw kadang malu ati dikiiit kalo pas nyeduhin teh manis buat suami (yang mana jarang terjadi) terus dia bilang “makasih ya sayang, kamu baik banget”.
    Gimana kalo gw cuciin kakinya terus aernya diminum coba?!?

    Reply
    1. NanaBanana Post author

      Mb Etty…ih solehah pisan si ibu geulis satu ini. Saya belon pernah ngebikinin teh manis soalnya. Semua dilakukan oleh mamer. Mantu dan estri macam apah aku inihhh?
      Eta kalo kaki dicuci dan aer dikokop…mungkin langsung cuss dibeliin tas lui pitong dari kulit ular pitong.
      Lakukannnn mak!!! *kompor*

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s