The day I fought back

Lanjutan dari cerita ini.

Sejujurnya, setelah kejadian itu, saya jadi mikir. Ga abis mikir malahan. Saya pake baju biasa aja. Ga terbuka, ga ngepas di badan juga. Make up juga super minimalis. Lipstick aja ga pake, bedak pun pake bedak bayi ato paling cakep pake bedak marcks 🙂  Meski jilbab ga berkibar, tapi senantiasa menjulur menutupi dada.

See?  I was going towards that direction of self-blaming and questioning what I have  done that made the guy behave the way he did. Kepikiran juga, kalo misalnya ngelapor ke boss, jangan-jangan tar malah dipertanyakan pula “are you sure it wasn’t because you were immodest?” Kekuatiran kek gini nih yang bikin kasus-kasus sexual harassment itu bak fenomena gunung es.

Saya ga akan ngebahas sexual harassment secara mendalam disini, ilmu saya ga nyampe.  But have a look at what I found on the internet.

Sexual-Harassment-in-the-Workplace-Statistics

Seujurnya, kasus perlakuan ga sopan itu bukan baru terjadi kali ini. Sadly, it (usually) happened the moment they know I’m Indonesian. Sungguh ya,  stigma yang tersemat di kalangan masyarakat sini kok ya wanita Indonesia tuh cuma jadi pekerja asisten rumah tangga. It’s so degrading! Bukan berarti profesi mbak-mbak tersebut rendah ya. Tapi seyogyanya setiap insan manusia itu diperlakukan dengan hormat toh? Apapun warna kulit, agama dan kepercayaan yang dianut, ataupun profesinya. Ya kan???

Setelah kejadian itu, saya jadi gerah sendiri. Orang mau nyari nafkah halal kok jadi dibikin males gini. Huh 😦

Sampe akhirnya, pagi tadi di area receptionist gedung kantor saya. Si orang yang sama lagi duduk di station-nya. Kali ini dia dengan gesture nempelin tangan ke kuping.

Langsung kubentak “what?” *tanduk mulai keluar*

Dia ngejawab “give me your phone number. I’ll take you out”

HIH…

“If you do this again, I’ll talk to your management office. This is a sexual harassment, you know!”

Saya trus ngeloyor pergi. Sempet denger dia ngomong “sorry sorry”.  But I could care less.

I’m a dignified woman and I deserve to be treated with respect. Semoga emang episode ini berakhir disini. I’m willing to forgive and forget. Tapi kalo kedepannya masi ada omongan kek gitu, well, this means war!! *galak*

Advertisements

8 thoughts on “The day I fought back

  1. Lisnandia Wulandari

    Baru baca.. Dan sebel.
    Sama banget kaya aku. Walaupun cuma verbal, mendidihnya sampe ubun-ubun. Rasanya pengen bales ngebentak, nampar, nonjok. Tapi ga pernah berani. Akhirnya cuma diem, melototin si pelaku pake tatapan judeees sejudes-judesnya.
    Sabar Banana. Didoain rame-rame semoga si oknum dirubung banci, trus digodain sama banci, dan dikelitikin si banci sampe muntah. *KZL*

    Reply
    1. NanaBanana Post author

      Diaa *peluk* kemana aja ih?
      Alhamdulillah, setelah kejadian itu, dia ga berulah. Masi nyapa dengan good morning gitu..tp kucuekin aja.
      haha..kok mbak eh mas b***i ikut dibawa-bawaaa…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s