Pink ribbon di bulan Oktober

Ini bukan topik yang mudah bagi saya. Maklum, nampaknya predikat galau-er sudah tersemat di dada, jadi rada kerepotan ketika mau nulis ini. Udah berkali saya tulis dan hapus dari draft. See, galau to the max deh. But today, I’m reminded when I saw it on instagram. Inshaa Allah, niatnya murni untuk sharing, coz sharing is caring, right?

Do you know that October is a cancer month? Bahkan secara spesifik ada yang menyebutnya sebagai breast cancer awareness month. I have to apologize here as I’m not going to dig more on why October and not the other month. Trust me, I’m also curious but this post isn’t going to talk about that.
Saya juga ga akan mengungkap fakta mengenai besarnya persentase penderita kanker payudara ini. You all can google it *banana pemalesan hihi*.

Saya hanya akan sekedar berbagi cerita.Saya bukan penderita kanker, jangan sampe yaa Allah *ketok meja*. Awalnya juga ga terlalu “ngeh”. Liat dan baca sih saat banyak media mengulas dan mensosialisasikan metode sadari, tapi saya ga ngejalanin. Simply because I’m ignorant. Ga ngerasa perlu dan ga mudeng lah.

Sampai kemudian salah seorang tante (adik bapak), dideteksi menderita kanker payudara stadium 2 atau 3 (maaf lupa) sekitar 4 tahun yang lalu. Pengobatan dengan obat dan kemo telah dilakukan, hingga kemudian pengangkatan salah satu payudara pun dijalani. Alhamdulillah sembuh.
Namun, kambuh dan menyerang sisi lainnya 2 tahun lalu. Akhirnya yang tersisa pun diangkat. Tapi sel kanker yang bandel masi terus menyerang bagian tubuh yang lain, hingga akhirnya tante saya meninggal di pertengahan tahun 2012.

Sekitar Oktober 2012, tante (kali ini, adik ibu saya) divonis menderita kanker payudara. Stadium 4. Jederr!!!
Kami semua kaget karena tidak ada gejala yang kasat mata. Tante saya sendiri juga sempet ke dokter pas nemu benjolan tsb sebulan sebelumnya. Dokternya bilang kalo itu cuma jaringan otot. Dalam waktu sebulan kok diagnosanya berubah drastis. Maraton pengobatan pun dimulai dengan kemo dan akhirnya operasi pengangkatan payudara. Namun, Tuhan lebih sayang tante saya, akhirnya Januari 2013 beliau meninggal dunia.

Jujur saya kaget, dan mulai terusik ketika mengetahui hasil diagnosa tante. Dan akhirnya pas medical check-up, saya bilang ama dokter saya soal histori kanker di keluarga dan kalo saya pengen ngecek payudara saya. Iseng ajah niatnya mah.
Eh, pas medical check-up sendiri, suster juga udah meraba-raba (err…kenapa jadi kek stensilan gini sih ceritanyaa 🙂 ) Dokternya juga melakukan hal yang sama.

Dokter menyarankan USG payudara karena mammogram tidak dilakukan pada wanita yang berusia dibawah 40 tahun. Saya setuju dan akhirnya proses USG dilakukan di hari yang ditentukan.
Modelnya yah sama kayak proses USG lainnya, cuma yah dipayudara yang notabene area sensitif ya. Bukaannn…bukan dalam artian seksuil, tapi lebih karena ngilu karena kan ditekan cukup keras ya. Pake gel dingin pulak…jadi ngilu-ngilu adem gitu lah *apeeuuu*.
Kelarrrr sudah…ga perawan dada guweh…huhu 😦

Saya sendiri udah ngerasa ga enak, karena operator USG-nya nguyek-nguyek payudara kanan saya. Berkali-kali, sambil ketak ketik gitu. Sementara yang kiri mah, ga terlalu lama pengecekannya.

3 hari kemudian saya ditelpon oleh dokternya. Ada 3 benjolan dipayudara kanan.

DEG!!

Niatnya iseng, kenapa jadi  beginiiiii *mewek*. Alhamdulillah ukurannya dibawah 1cm. Ukurannya sendiri rata yah, di range 0,5 dan 0,6 cm. Opsinya adalah biopsy untuk memastikan apakah itu kanker ato bukan, ganas ato ga. Atau sekalian aja, operasi untuk mengangkat semua benjolan itu.

Btw, beberapa tahun yang lalu saya pernah nemenin temen disini yang menjalani oprasi pengangkatan benjolan tumor jinak di payudara. Cukup day surgery aja dan ga rempong, jadi saya cukup pede dan gagah bisa melalui operasi itu sendiri. Itu pula alasan kenapa saya cenderung memilih untuk operasi saja, ga guna miara penyakit, itu sih pikiran saya. Tapi saya berusaha cari second opinion dan minta referensi ke dokter spesialis Oncology di National Cancer Center (NCC).

Iyaa, saya sekalian pergi ke pusatnya pengobatan kanker di Singapura. Bukan sok ato gegayaan, tapi saya emang ga suka setengah-setengah untuk urusan kesehatan. Selain itu, saya ngerasa kalo di NCC, saya akan dapat informasi yang komprehensif, berikut dengan terapi konseling jika diperlukan. Saya memilih seorang dokter senior wanita. Di hari yang ditentukan, saya kembali kudu melalui proses USG payudara. Yak kembali sibak to**t dahh. Plus, diuyek-uyek lagi secara manual ama dokter muda yang jadi muridnya dokter senior pilihan saya.  Bubarrrr, dada saya ga perawan makkkk!!!

Dokter emang menemukan 3 benjolan seperti hasil USG pertama. Tapi menurutnya, ukurannya kecil dan tampak tak  berbahaya. Dia bilang kalo benjolan itu cuma kista, isinya cairan dan biasa muncul di semua wanita. Dia juga ga menyarankan untuk melakukan biopsy bahkan oprasi. Saya sempet ngotot bilang kalo dokternya tante juga ngomong gitu. Eh sebulan kemudian kok jadi kanker stadium 4. Ngotot lah pokoknya saya mah.

Dokter kemudian bilang, dia ga mau gegabah, maen asal beset aja *pendekar kale..maen beset*. Dia mau memantau kondisi saya dan saya dijadwalkan untuk ketemu lagi 6 bulan setelah itu. Tanggalnya sendiri bertepatan dengan 2 hari sebelum jadwal keberangkatan saya menemui (calon mertua) seperti cerita saya disini

Saya sendiri sudah pasrah. Udah sounding juga ke calon suami waktu itu kalo saya memang positif kanker, proses tidak akan berlanjut dan pernikahan batal.

Di follow-up yang kedua ini, proses uyek-uyeknya lebih lama lagi. Bahkan, sang operator udah bersiin sisa gel di dada dan nyuruh saya berpakaian, tapi kemudian nyuruh saya nunggu karena mau manggil dokter ahli USG.

Waduhh…feeling udah ga enak deh.

Yakk, kembali diuyek-uyek dan nahan ngilu. Saya akhirnya nanya, apakah prosedur itu normal. Karena sebelumnya saya ga digituin (maksudnya ampe manggil dokter ahli USG).  Dokter itu bilang kalo itu normal. Dan dia ngecek ulang karena salah satu benjolan-nya itu dicurigai tumor. Yang dua lainnya sih udah pasti bukan. DEG!! Dokter Oncology saya ga pernah nyebut itu padahal 😦

After further uyek-uyek sana sini, dia memastikan itu bukan kanker. Alhamdulillah. Setelah USG, saya masi kudu ngantri buat ketemu dokter oncology. Dia juga memastikan kalo itu  bukan kanker. Dia ga cerita soal kecurigaan tsb karena merasa yakin itu bukan kanker.

Sori kalo postingnya jadi panjang. Jadi inti dari postingan ini apa yah? Yah semoga sharing cerita saya itu bisa membuka mata kita semua.

Here’s what you can do to protect yourself:

1. Jaga badan masing-masing.

Bisa dengan memperhatikan asupan makanan, konsumsi suplemen dan vitamin. Mangga eta mah, udah pada pinter dan melek informasi lah ya soal itu mah.

2. Coba cek dan telusuri kalo ada histori kanker di keluarga kita. Dari pihak bapak dan ibu yah.

Meski bukan berarti kalo keluarganya bersih dari histori kanker maka kemungkinan kanker jadi kecil.

3. Lakukan pengecekan dengan metode SADARI (Periksa payudara sendiri).

Hasil gugling saya nih kayak gini caranya;

sadari01

Sadari -1

sadari02

Sadari – 2

Sadari - 3

Sadari – 3

Jujur si saya rada ribed soal ini, karena itu tadi, benjolan yang teraba tuh bahaya ato sekedar otot ya? If you’re not sure,

4. Konsultasi dengan dokter.

Minta dicek dan minta USG jika perlu. Jika dirasa perlu, mungkin dokter akan menyuruh proses mammogram.

5. Untuk kanker serviks, sekarang uda ada vaksinasinya. Agak mahal, tapi mencegah lebi baik dari mengobati, kan? So, silakan nabung dan lakukan vaksinasinya. Upaya pencegahan lainnya bisa dengan medical check-up secara teratur.  Ihh jadi inget deh kalo udah taun ini belom med- check. Dan pengen pap-smears juga ih.

6. Educate yourself!

Ada banyak artikel dan informasi yang bisa didapet from your finger tip alias digugel ateuhh. Jangan pernah berpikir kalo penyakit ini cuma diderita oleh yang usianya udah matang aja yahh. Saya pernah baca artikel kalo ada gadis usia 24 tahun yang kena kanker payudara, dan sempat ditolak buat mammogram karena usianya masi  belia.Makanya batasan umur ini jadi perdebatan, ceunah artikel yang saya baca ya.

Last but not least,

7. Spread the word!

Remember, sharing is caring! So, kita bisa ngebagi informasi yang kita punya.

Jangan berkecil hati kalo info yang kita punya mungkin ga detil, ato ecek-ecek lah. Nihh, saya aja ga ngelotok amatan soal kanker ini, tapi saya harap ajakan dan himbauan saya untuk melakukan sadari dan med-check teratur  bisa diikuti dan pada gilirannya bisa nyebarin informasi pentingnya kesadaran akan penyakit kanker ini .

So, are you joining?

130801-October-Is-Breast-Cancer-Awareness-Month

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s