A Woman’s Worth

Disclaimer: postingan galau..well, apalagi?  🙂 Tinggal dijorokin buat join ke klub galaw semesta alam ini sih emang. Dan isi potingan ini, ngebahas saya aja lah. Rasanya ga mumpuni untuk mengklaim kalo saya menuliskan ini mewakili wanita lainnya. Kalo ada kesamaan nasib..yukk sinih berpelukan!! 🙂

Saya diajarkan oleh keluarga untuk mandiri. Bisa sekolah tinggi, bekerja dan mencukupi kebutuhan sendiri. Saya sendiri masih bekerja aktif. I’m very proud of myself, for so many reasons. Rasanya seneng bisa memenuhi kebutuhan pribadi, dan turut membantu orang tua. Priceless, ceuk ceunah mah ya.

Tapiiiii…

Sekolah tinggi

Pekerjaan dan karir

Kemandirian dalam bidang financial

dan beragam keberhasilan lainnya…

Semua itu seakan “ga bernilai” bagi masyarakat kita, well mungkin cuma masyarakat sekitaran rumah ortu yah. Gegara masi lajang, semua kerja keras dan keberhasilan yang saya capai jadi ga nampak. Blasss ilang bak debu-debu intan  😦

Mungkin, masayarakat Indonesia secara umum udah ga “begitu” amatan. Tapi, pertanyaan “kapan nikah?” itu acap saya terima dari junior-junior semasa kuliah dan teman-teman disini loh, yang notabene bisa disebut modern. Pertanyaan sampai ke nasehat (nyinyir), “Jangan pilih-pilih!”. Lahh belanja sayur aja milih yak, apalagi ini milih suami yang bakal jadi sigaraning nyowo.

Saya bukan feminist, ga apal juga apa isi kegiatan dan misi yang diusungnya. Jadi, jangan rajam saya yaa. Tapi sungguh ga adil kalo nilai saya dilihat dari status pernikahannya.

Nah, sekarang dah nikah, berarti dah sempurna dong nilainya?

WRONG!!

Big Mistake!

Karena ternyata ada parameter lain untuk ini. Ya envelope…kok ra uwis-uwis yakk? 😦 Setelah menikah, sekarang saya dinilai dari kemampuan bereproduksi alias hamil dan melahirkan keturunan.

Sekali lagi, karir dan semua achievements saya? Cuihh…waktu lajang aje kagak dilirik apalagi sekarang ya? Gimana dengan kecantikan dan keseksian fisik saya ini ? kacaa..mana kacaa…*pembaca muntah* hihi.

Ternyata, nilai saya sebagai sebagai wanita, ga jauh dari kodrat kewanitaan, yaitu menikah, menjadi istri seseorang dan menjalani kehidupan rumah tangga, yang kemudian nantinya hamil, melahirkan dan jadi ibu.

Topik ini yang sekarang menggayuti (tsaahh bahasanya) fikiran saya. Jujur, saya galau. Galau kan my middle name, yee?

A woman’s worth.

Apakah kesempurnaan saya sebagai istri hanya ditentukan oleh faktor hamil dan kelahiran?

Udah ngeri duluan ketika wacana untuk back for good mulai digaungkan. Ga pede deh.

What’s my self-worth? Ihh ga nyangka loh saya bisa galau ke level ini.

But then I’m reminded.

Aku menikahimu karena aku ingin menjalani hidup bersamamu.

Karena aku cinta, aku sayang padamu.

Bukan karena mau punya keturunan. Hadirnya anak, itu bonus.

 

There, the answer to my never-ending galauness.

Pada akhirnya, orang lain cuma bisa berkomentar berdasarkan apa yang terlihat saja. Yakin saja lah pada kemampuan diri, dan cukup orang terdekatlah yang tahu.

Jadi, what’s my self-worth?

Adding to my already packed resume, yaitu mandiri, cantik, dan seksi, Gustiii..ieu meni pede selangit gini *dikeplak yang baca*, I’m proud to say that I’m a woman.

I’m a wife.

A great lover. Makanya dipilih dalam waktu singkat buat dikawinin toh?

The best partner he can always depend and rely on *kepal tangan*

Dibalik pria yang hebat, ada partner yang luar biasa kan? Inshaa Allah, aamiin.

quote

Advertisements

8 thoughts on “A Woman’s Worth

  1. nityakrisnantari

    Hi Nanabanana,
    setuju banget sama kalimat: “orang lain cuma bisa berkomentar berdasarkan apa yang terlihat saja. Yakin saja lah pada kemampuan diri, dan cukup orang terdekatlah yang tahu”

    Aku pun pernah diinjek-injek sama beberapa oknum karena belom S1 udah nikah n punya anak. Sempet kesel dan misuh-misuh sendiri sih. Tapi yaudahlah yaa.. Capek juga dengerin omongan orang dan judgment mereka. Yang penting (IMO) penilaian kita tentang diri kita sendiri. Rezeki pasti udah diatur sama Tuhan 🙂

    Reply
    1. NanaBanana Post author

      Hi, Nitya! Thanks atas komennya.
      Yap, betull…aku sih sekarang brusaha menumbuhkan self-respect aja,,,so, anjing menggonggong, orang cakep mah tetep berlalu yahh *pede

      Reply
  2. emaknyashira

    banana kok kamyu lagi filosofis (naon eta artina) banjet sih, gw pun kalo lagi kumat ga pede dan nelongso biasanya melihat ke orang-orang yang cinta banget sama gw dan melihat betapa gw ini seseorang yang berharga buat mereka.

    Reply
  3. mrssanti

    mbaaak, itu lho jawabannya suami kok sama persis ya..
    suami juga seriiiing banget bilang gini; i am over the moon marrying you. having kids is bonus. i love you with or without kids. hihihi, trus seperti biasanya.. istrinya inipun langsung mewek wek wek wek 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s